Jenis Kecerdasan Anak
Mengetahui 9 Jenis Kecerdasan Anak Serta Cara Mengembangkannya
November 23, 2020
3 Alasan Kenapa Guru PAUD Harus Menjadi Prioritas dalam Menciptakan Pendidikan Maju Indonesia
3 Alasan Kenapa Guru PAUD Harus Menjadi Prioritas dalam Menciptakan Pendidikan Maju Indonesia
December 15, 2020

Sebanyak 47% Anak Merasa Bosan di Rumah, Berikut Cara Mengatasinya

Sebanyak 47% Anak Merasa Bosan di Rumah, Berikut Cara Mengatasinya

Sudah sekitar 9 bulan lamanya anak-anak tak bisa bersekolah serta menjalankan rutinitas yang biasa dilakukan dengan teman-teman di sekolah. Selain menyebabkan anak merasa bosan karena terus-terusan diam di rumah, adapun dampak lain yang anak rasakan.

Data-Data Mengenai Kesehatan Mental Anak Selama Pandemi

Data yang didapat dari survei penilaian cepat yang dilakukan oleh satgas COVID-19 (BNPB 2020) menunjukkan, sebanyak 47% anak merasakan bosan karena terus-terusan diam di rumah. 35% merasa khawatir ketinggalan pelajaran. 15% merasa tidak aman. 20% anak-anak merindukan teman-temannya. Dan 10% anak merasa khawatir dengan perekonomian keluarga mereka.

Selain itu, sebuah penelitian yang dipublish oleh JAMA Pediatrics Journal yang dilakukan di Hubei Cina serta melibatkan 2.330 anak sekolah, menunjukkan anak-anak yang melakukan karantina terkait pembelajaran jarak jauh karena Covid19, menunjukkan beberapa tanda tekanan emosional.

Sebanyak 22,6% dari anak-anak yang diobservasi mengalami gejala depresi dan 18,9% mengalami kecemasan. Penelitian lain dari pemerintah Jepang pun datanya tak jauh berbeda dengan penelitian anak-anak di negara lain, yakni sebanyak 72% anak-anak Jepang merasakan cemas.

Begitu pula di Amerika Serikat. Hasil investigasi yang dilakukan Centre for Disease Control (CDC) menghasilkan data 7,1% anak usia 3 hingga 17 tahun mengalami kecemasan dan 3,2% mengalami deperesi. Melihat betapa banyaknya kekacauan ini, kira-kira apa saja yang bisa kita lakukan sebagai orang tua ataupun lembaga institut pendidikan yang menjadi tempat anak-anak menimba pendidikan ini?

 

Cara Mengatasi Kesehatan Mental Anak Serta Rasa Bosan Akibat PJJ

Dosen IPB University dari Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia (IKK-Fema) Yulina Eva Riany, mengatakan , butuh upaya strategis dalam mengavulasi sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sekaligus memberikan dukungan kesehatan mental bagi anak remaja.

Lalu bagaimanakah caranya? Berikut adalah beberapa saran serta hal-hal yang sebaiknya dilakukan.

  1. Menghadirkan Fasilitas Kesehatan Mental di Sekolah

“Penyediaan layanan dukungan sosial yang memberikan fasilitas layanan kesehatan mental (mental health) bagi para siswa melalui sekolah merupakan hal strategis yang perlu diperkuat di era pandemi saat ini,” terang Eva.

“Dengan adanya penyediaan layanan ini, baik online maupun offline, baik melalui masyarakat maupun konseling, diharapkan masyarakat dapat dengan mudah mengakses dukungan sosial yang diperlukan.”

Negara-negara lain telah melakukan langkah ini, contohnya seperti yang pemerintah China, Australia, dan Jepang lakukan. Mereka menyediakan layanan telepon, online maupun offline sebagai pertolongan pertama pada kesehatan mental anak-anak. Jadi sebelum merambah ke tingkat yang lebih serius, mereka sudah mencegahnya dengan menghadirkan layanan tersebut.

 

  1. Mengoptimalkan Peran Keluarga di Rumah

Peran keluarga di sini juga tak kalah penting, merekalah  yang menjadi kunci penting dalam menjaga kesehatan mental anak di rumah. Langkah yang dapat keluarga lakukan untuk mencegah si kecil tidak stres dengan PJJ bermacam-macam.

Bisa berbentuk, menemani atau mendampingi mereka setiap pelajaran online dimulai, mengidentifikasi berbagai indikator permasalahan mental dan memperkuat fungsi keluarga di rumah dalam pola mengasuh. Hal tersebut adalah langkah paling strategis menurut Eva yang dapat keluarga lakukan.

Jika kedua pihak ini saling bekerja sama, kami sangat yakin, masalah-masalah seperti gangguan mental bisa diatasi dengan baik. Jangan sampai membuat anak menderita akibat pandemi ini. Usia-usia mereka masih sangat sensitif dengan permasalahan tersebut. Sebut saja pada usia 3 tahun hingga 17 tahun, adalah masa-masa paling mudah mengguncang mental. Jadi jangan meremehkan hal-hal kecil termasuk rasa bosan anak dalam belajar jarak jauh.

 

Sumber:

https://edukasi.kompas.com/read/2020/11/13/162554571/47-persen-anak-indonesia-bosan-di-rumah-akademisi-ipb-beri-saran?page=all#page2

Open chat
Hubungi Lewat Whatsapp
Halo
Bisa kami bantu seputar layanan pendidikan di GKS?